Pengantar (Introduction)

Pengantar Website Minggu Ke-33 2015

Ilustrasi | REUTERS/Soe Zeya TunBerbagai pendekatan dalam penanggulangan HIV dan AIDS menyebutkan  perlunya keterlibatan masyarakat baik dari kader masyarakat, LSM, Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) maupun tokoh masyarakat. Sehingga dapat diartikan bahwa kebutuhan tenaga non kesehatan menjadi sangat penting dan strategis. Banyak faktor yang menjadi alasan mengapa pelibatan tenaga kerja multiplier menjadi krusial dalam upaya penanggulangan AIDS ke depan yang berbasis pada layanan kesehatan sampai pada tingkat fasilitas kesehatan primer. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari kebijakan strategis LKB dan SUFA membutuhkan sumber daya yang cukup baik  pada sektor kesehatan maupun non kesehatan sebagai pendukung pokok dalam upaya penanggulangan AIDS  (VCT link to Care).  Tulisan terkait kebutuhan tenaga non kesehatan menjadi artikel utama dalam website edisi kali ini. Sebuah kajian atas kebutuhan tenaga kesehatan untuk mencapai tujuan-tujuan kesehatan publik di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah menjadi artikel kedua.

Pengantar Minggu Ke-32 2015

Kebijakan AIDS IndonesiaWacana contracting out menjadi topik yang menarik untuk didiskusikan , terutama dikaitkan dengan  situasi pendanaan dalam program penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia. Kesenjangan kebutuhan dan ketersediaan dana untuk penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia di masa depan akan mengancam cakupan layanan yang selama ini sudah dicapai secara nasional baik dalam upaya promosi dan pencegahan, perawatan, dukungan, pengobatan serta mitigasi dampak (analisis pendanaan untuk Strategi dan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS 2015-2019, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, 2015). Salah satu strategi yang banyak direkomendasikan oleh banyak pihak untuk menjamin keberlanjutan program yang diinisiasi dari Global Health Initiatives adalah dengan mengintegrasikannya dengan sistem kesehatan yang berlaku. Isu penting sebagai konsekuensi upaya untuk mengintegrasikan penanggulangan HIV dan AIDS adalah seberapa jauh sistem kesehatan di Indonesia ini mampu mengadopsi penanggulangan HIV dan AIDS yang komprehensif mengingat selama ini pendanaan APBN hanya difokuskan untuk upaya kuratif, sementara upaya promotif dan preventif masih sebagian besar menggantungkan sumber pendanaan dari luar negeri. Tantangannya adalah jika pemerintah menyediaan dana bagi kegiatan promotif dan preventif, apakah ada mekanisme yang memungkinkan bagi LSM untuk mengakses pendanaan tersebut sehingga memungkinkan untuk meneruskan peran mereka selama ini? Beberapa kajian menunjukkan bahwa sistem kontrak (contracting out) menjadi salah satu strategi untuk memberikan peluang bagi LSM dalam mengakses dana-dana pemerintah baik yang bersumber APBN maupun APBD.

Pengantar Minggu Ke-31 2015

World Hepatitis Day | Source: www.csih.orgMemperingati Hari Hepatitis Sedunia Ke-5, pada tanggal 28 Juli 2015, tema global yang ditetapkan WHO adalah “Prevent hepatitis : Act now.” Di Indonesia moment ini dimanfaatkan untuk mendorong gerakan penanggulangan penyakit hepatitis dikaitkan dengan penanggulangan HIV dan AIDS. Tuntutan untuk menurunkan biaya obat dan pengobatan Hepatitis C dan memasukkannya dalam daftar obat esensial, menjadi salah satu pesan utama dalam gerakan tersebut. “Saatnya Memberikan Perhatian pada Pencegahan dan Perawatan Hepatitis pada Penanggulangan AIDS” menjadi artikel utama pada edisi kali ini.  Opini yang diangkat oleh penulis merupakan refleksi bersama terhadap tema peringatan Hari Hepatitis Sedunia dikaitkan dengan upaya penanggulangan HIV dan AIDS selama ini, agar penyakit hepatitis menjadi hal yang perlu mendapatkan perhatian lebih dalam penanggulangan HIV dan AIDS (Link Artikel).

Pengantar Minggu Ke-30 2015

Kebijakan AIDS IndonesiaPembaca  yang budiman, permasalahan gender dalam penanggulangan HIV dan AIDS menjadi artikel utama dalam edisi website kali ini. Secara global dan regional jumlah kasus HIV dan AIDS pada perempuan lebih besar dari laki-laki. Namun situasi ini berbeda dengan di Indonesia dimana  jumlah laki-laki yang terinfeksi HIV dan AIDS lebih besar.  Faktor yang menyebabkan  dari situasi global dimana kasus HIV pada perempuan jauh lebih besar, dijelaskan dalam artikel tersebut.

Ilustrasi | Kebijakan AIDS IndonesiaPembaca yang budiman, terlebih dahulu Pengelola Website Kebijakan AIDS Indonesia mengucapkan Selamat Iduf Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Edisi website kali ini mengambil tema “Pendekatan untuk Perubahan Perilaku dalam Penanggulangan AIDS”.  Lebih dari 10 tahun gerakan penanggulangan AIDS di Indonesia belum mampu secara signifikan mengurangi laju epidemi HIV dan AIDS, dari sejak pertama kali ditemukan kasus HIV di Indonesia. Pemerintah merespon situasi ini melalui berbagai strategi dan regulasi. Berbagai pola pendekatan untuk perubahan perilaku menjadi bagian dari perjalanan penanggulangan HIV dan AIDS. Artikel utama pada edisi ini berjudul, Pendekatan “Generasi ke-empat” untuk Penanggulangan HIV dan AIDS yang Efektif – Apa dan Mengapa.  Dalam ulasannya penulis memetakan model pendekatan  yang telah dan dapat dilakukan dalam mengupayakan adanya perubahan perilaku. Artikel ini merupakan opini terhadap artikel yang berjudul   Towards a “Fourth Generation” of Approaches to HIV/AIDS Management: Creating Contexts for Effective Community Mobilisation yang ditulis oleh Catherine Campbell; Flora Cornish.

Penelitian

Knowledge Hub

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID