Mataram (suarantb.com) – HIV/AIDS masih menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat. Pasalnya penyakit ini belum bisa diobati, melainkan masih pada tataran pencegahan pertumbuhan virusnya. Khusus di Kota Mataram, temuan kasus HIV/AIDS tertinggi dibandingkan kabupaten/kota lainnya di NTB.
Baru-baru ini seorang ibu hamil juga positif terjangkit HIV/AIDS. Temuan ini terdata di Puskesmas Karang Taliwang, Cakranegara.
Demikian disampaikan Penanggung Jawab Program Upaya Kesehatan Masyarakat Puskesmas Karang Taliwang, I Nyoman Swarsana kepada suarantb.com, Selasa, 9 Mei 2017. “(Temuan kasus) cuma satu. Tapi faktor risikonya ini ibu hamil,” ujarnya.
Penutupan lokalisasi menjadi sosok menyedihkan jika dilihat dari sudut pencegahan HIV/AIDS. Prostitusi terselubung disinyalir kian menjamur. Jumlah penderita HIV/AIDS justru tumbuh subur.
Jarum jam menunjuk ke angka 10 malam itu, dua pekan lalu. Dentuman musik dangdut koplo sayup-sayup dari salah satu cafe di kawasan Kampung Kajang (K2), Sangatta Selatan. Beberapa muda-mudi dan para perempuan berusia di atas 40 tahun asik mengobrol. Sebagian dari mereka dulunya adalah mucikari rumah-rumah bordil di sana.
Namun, suasana malam itu tak seramai dulu. Bedanya, dulu para wanita pekerja seks komersial (PSK) bergeliat melayani pelanggan. Mereka yang dipelihara mucikari itu, menjajakan tubuh dengan terang-terangan. Aktivitas haram itu akhirnya terhenti medio 2014 lalu, Pemkab Kutim mengambil gebrakan besar dengan menutup lokalisasi itu.
RAKYATKU.COM, PAREPARE - Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Parepare, melakukan kunjungan Kerja ke Denpasar, Bali dalam mencari isu untuk menggodok Peraturan Daerah (Perda) inisiatif terkait Penanggulangan Human Immunodeficiency Virus, Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS).
Sekretaris Komisi II DPRD Kota Parepare, Yusuf Nonci memaparkan ada beberapa poin penting yang menjadi catatan saat kunjungan kerja di Pulau Dewata terkait penanggulangan penyakit mematikan ini.
Country Program Manager AHF (AIDS Healthcare Foundation), Riki Febrian, mengatakan, pihaknya akan berusaha membantu pelayanan pengobatan ARV untuk 22 penderita HIV/AIDS asal Pangandaran di Puskesmas Parigi.
Meski begitu, kata Riki, pihaknya memerlukan data pasti para penderita yang ada di Pangandaran. Sebab, hal tersebut guna memastikan jumlah obat maupun kebutuhan lainnya yang akan dikirimkan ke Puskesmas Parigi.
BATAM.TRIBUNNEWS.COM, KARIMUN-Bupati Karimun Aunur Rafiq melepas 48 kader Tuberculosis dan HIV Aisyiyah Karimun. Pelepasan dilakukan di rumah dinas, Taman Bunga, Senin (6/3/2017) sekitar pukul 10.00 WIB.
Kader TB-HIV Aisyiyah Karimun tersebut akan menyebar di enam titik di empat kecamatan dan tiga puskesmas yaitu Karimun, Meral, Tebing dan Meral Barat. Mereka akan memberikan sosialisasi dan penyuluhan bahaya penyakit TBC dan HIV.
Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Karimun, Erpin Sulistyowati mengatakan kader tersebut memiliki masa tugas selama 14 hari dengan target 1.400 rumah atau minimal 100 rumah per hari.
"Berdasarkan informasi yang kami terima dari Dinkes Karimun, TB di Karimun satu bulan 120-140 kasus, sedangkan HIV sekitar 1.420 kasus sampai awal Maret 2017 ini," ujar Erpin Sulistyowati, Senin. (*)
© 2026 Kebijakan AIDS Indonesia