Sisilya Oktaviana Bolilanga, Volunteer Yayasan GAYa NUSANTARA
Forum komunitas pra-pernas diselenggarakan dua hari sebelum Pernas AIDS V dibuka, yaitu pada hari Minggu dan Senin, 26-27 Oktober 2015 di Hotel Sahid Jaya Makassar. Adapun forum komunitas ditujukan untuk merancang rekomendasi serta melakukan konsolidasi suara kelompok komunitas dan populasi kunci terhadap isu-isu penting terkait situasi epidemi dan upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia. Terdapat enam forum komunitas dalam agenda ini, diantaranya adalah Forum Komunitas Kelompok Gay, Waria, LSL Indonesia (GWL-INA).
Pada sesi kedua Forum Komunitas Pra-Pernas Kelompok GWL tanggal 26 Oktober 2015 pukul 10.45-12.15 WITA, keberlangsungan Organisasi Berbasis Komunitas (OBK) GWL menjadi topik diskusi kelompok ini dengan tujuan mendapatkan gambaran keberlangsungan OBK dalam melakukan program penanggulangan HIV dan AIDS pada komunitas GWL dengan atau tanpa adanya dukungan pendanaan asing maupun dalam negeri. Kedua narasumber yang berbagi pengalaman keberlangsungan organisasinya dalam forum komunitas ini adalah ketua LSM Keluarga Besar Waria Yogyakarta (Kebaya) dan GAYLAM Lampung.
GAYLAM Lampung adalah Organisasi Berbasis Komunitas GWL (LGBT) yang memberdayakan Kelompok GWL, ODHA GWL dan GWL remaja dalam isu program penanggulangan IMS, HIV dan AIDS, SOGIE, dan HAM. Melakukan peningkatan kapasitas dan workshop, pertemuan dan diskusi dalam berbagai kegiatan yang inovatif, kreatif, dan berkelanjutan. GAYLAM Lampung terus membangun jejaring dan kemitraan ditingkatan lokal dan nasional sejak organisasi ini dibentuk 2008 (Akta Notaris tahun 2010). Fokus GAYLAM di area Lampung yaitu di 5 Kabupaten dan 2 Kota (dari 14 Kab/Kota), memiliki Visi, Misi dan Rencana Strategis Organisasi, struktur kepengurusan, dengan sejumlah kegiatan atau aktifitas yang dilaksanakan secara mandiri maupun melalui bantuan pendanaan. Rumah Kreatif GAYLAM merupakan sekretariat organisasi yang didirikan mandiri dan mampu memberikan kontribusi pendanaan bagi organisasi.
Sepanjang tahun 2012 hingga 2014 GAYLAM Lampung telah memberdayakan kreatifitas kelompok GWL dengan memperkenalkan Rumah Kreatif GAYLAM melalui pembuatan kostum karnaval yang kreatif dan inovatif. Terkait dengan program HIV dan AIDS, GAYLAM mengadakan berbagai pelatihan dan workshop bagi beragam komunitas GWL yaitu Infeksi Menular Seksual (IMS), HIV dasar, Care Support Treatment (CST), Peer Educator (PE), SOGIE dan HAM, Community Organization dan leadership. Diskusi tentang kondom juga dilakukan saat melakukan penjangkauan di hotspot, pemutaran film dan pengajian rutin. Melalui pertemuan formal dan informal dengan mitra pemerintah, LSM, lintas komunitas, dan semua masyarakat memberikan dampak positif yaitu menurunnya stigma dan diskriminasi pada kelompok GWL.
Di tahun 2014 jumlah total komunitas GWL yang dijangkau sebanyak 2321 orang dan terdapat 986 orang GWL melakukan VCT. Sejak tahun 2013-2015 sejumlah 340 orang GWL yang dilatih untuk menjadi konselor VCT, dan untuk CST GAYLAM menginisiasi pembentukan 5 KDS, KDS Paradise, Seroja Sewu, Sedap Malam, Plate dan Gendhis. Selain itu GAYLAM membentuk kesepakatan dengan Pihak Puskesmas sebagai layanan rujukan bagi komunitas GWL sebagai komitmen GAYLAM dalam upaya Pencegahan dan Penanggulangan IMS, HIV dan AIDS di Provinsi Lampung. Media Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) untuk menjangkau komunitas GWL dan masyarakat luas tentang program penanggulangan HIV dan AIDS, IMS tersedia dalam bentuk hardcopy maupun softcopy dengan mengakses alamat website GAYLAM www.gaylamlampung.com.
Kebaya merupakan lembaga swadaya masyarakat yang didirikan pada tanggal 18 Desember 2006, dan memperoleh Akta Notaris pada tanggal 22 Januari 2007. Embrio organisasi ini telah digagas sejak tahun 1985 oleh salah satu pendirinya yaitu Vinolia Wakijo, seorang transgender dan aktivis di PKBI yang rutin melakukan pendampingan terhadap kaum waria di Yogyakarta. KDS Violet Community bagi ODHA dan OHIDHA waria merupakan bentukan awal LSM Kebaya hingga menjadi sebuah organisasi yang dapat mengakses pendanaan dari UNAIDS untuk peningkatan kapasitas waria di Yogyakarta. Visi dan misi Kebaya adalah: a) mencegah dan/atau menurunkan angka infeksi HIV dan penanganan AIDS di kalangan waria di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, serta b) meningkatkan taraf hidup waria setara dengan masyarakat lainnya sebagai warga Indonesia.
Kebaya memiliki struktur organisasi yang meliputi beberapa unsur penting, yaitu Pendiri (3 orang yang namanya tercantum dalam Akta Notaris), Dewan Pembina, Dewan Penasehat, Dewan Pengurus, dan Anggota. Adapun susunan Dewan Pengurus meliputi Direktur, Pengelola Program, Bendahara, Koordinator Lapangan dan Petugas Lapangan. Sayangnya, sebagai OBK GWL di Indonesia, Kebaya kurang memiliki sumber keuangan yang memadai. Selama ini sumber keuangan yang ada dihimpun dari pendanaan oleh lembaga donor dan pemerintah daerah, serta sumbangan dari para mitra yang melakukan pengambilan data di Kebaya (minimal Rp 50.000).
Program-program yang dilaksanakan Kebaya hingga saat ini adalah: 1) Perekrutan staf dalam rangka mengembangkan strategi untuk mencapai tujuan utama program; 2) Pemetaan lokasi untuk mengidentifikasi tempat tinggal potensial komunitas waria dan melakukan pendampingan terhadap mereka sebagai mitra strategis; 3) Membuka jaringan pada instansi terkait dan akses pada mitra strategis dalam rangka melakukan kegiatan intervensi, baik langsung di tempat tinggal maupun di tempat mangkal kaum waria; 4) Peningkatan keterlibatan dan menumbuhkan semangat kerelawanan di antara mitra strategis dalam upaya penyebaran informasi penanggulangan IMS, HIV dan AIDS melalui kegiatan peer education; 5) Peningkatan pengetahuan dan kesadaran mitra strategis terhadap IMS dan HIV dan AIDS sebagai bentuk upaya pendidikan bagi mitra strategis melalui kegiatan outreach dan edutainment; 6) Kerjasama antara perusahaan kondom berkaitan dengan promosi penggunaaan kondom dan lubrikan, serta untuk memfasilitasi akses kondom dan lubrikan bagi waria melalui pengadaan outlet kondom dan pemanfaatan tempat kondom; 7) Membangun sistem layanan kesehatan untuk kasus IMS dan VCT melalui kegiatan skrining, pemeriksaan dan rujukan infeksi, cetak kartu rujukan, dan sistem rujukan; 8) Pemberdayaan mitra strategis agar mereka mendapatkan pengetahuan, ketrampilan, sekaligus modal dasar untuk masa depan melalui kegiatan pelatihan; 9) Mencetak KIE sebagai bentuk media informasi berbentuk brosur, leaflet yang isinya mudah dipahami oleh komunitas; dan 10) Pertemuan rutin Violet Community.
Terdapat dua hal yang menentukan keberlangsungan OBK Kebaya, yaitu simpanan keuangan lembaga dan SDM. Ketika bantuan keuangan dari lembaga donor internasional dan lembaga pemerintah masih mengalir, Kebaya memiliki simpanan keuangan yang cukup, yang diperoleh melalui pemotongan gaji pengurus. Namun sejak tahun 2010, tidak ada lagi bantuan dari lembaga donor internasional, sehingga Kebaya harus menghentikan beberapa programnya dan terpaksa mencari sumber pendanaan sendiri di tingkat lokal. Satu-satunya program yang masih terus berjalan adalah program Akses Pelayanan Kesehatan melalui Jamkesos Kelompok Waria yang mendapat dukungan penuh dari Dinas Sosial Provinsi DIY, termasuk untuk pembiayaan sewa kantor.
Memanfaatkan sumber-sumber dana melalui anggota OBK yang diperoleh saat menjadi narasumber dalam seminar atau matakuliah di universitas atau peserta kegiatan yang mendapatkan transport seperti contoh LSM Kebaya Yogyakarta dapat dicontoh oleh OBK di daerah lain untuk mempertahankan keberlangsungan organisasinya. GAYLAM Lampung berinovasi dengan mengembangkan ekonomi kreatif dengan 3P (people, planet, profit) untuk mendukung keberlangsungan OBK dengan fokus pada komunitas GWL, dengan fund raising yang ada GAYLAM mengembangkan usaha seperti kafe, salon, dan laundry. Selain tentang pendanaan, diskusi forum komunitas pra-pernas ini juga membahas hal-hal lain yang mendukung keberlangsungan OBK dalam menjalankan program penanggulangan HIV dan AIDS, yaitu legalitas, pembagian peran antar-anggota, pemimpin OBK, manajemen lokal, rasa memiliki anggota terhadap OBK, trust antara anggota dan pemimpin OBK, serta peran lembaga sebagai fasilitator antara anggota OBK dengan instansi pemerintah dan swasta di daerah.
GWL-INA pusat sebagai lembaga induk yang membawahi OBK-OBK dengan fokus komunitas GWL berperan untuk memperkuat kapasitasi melalui penelitian operasional, pengembangan inovatif untuk kegiatan penjangkauan bagi para penjangkau lapangan misalnya dengan aplikasi smartphone MORENA (Mobile Outreach Report & Guideline Apllication) untuk kegiatan penjangkauan digital, menginisiasi berbagai program HIV dan AIDS dan advokasi, melakukan seminar dan workshop bagi GWL-INA daerah sehingga program penanggulangan HIV dan AIDS di semua OBK yang terdaftar dalam GWL-INA pusat dapat terus berlanjut dan mampu bertahan secara mandiri.
Sesi : Forum Komunitas Pra-Pernas
Topik : Sustainability – Organisasi Berbasis Komunitas GWL
Hari/tanggal : Senin/26 Oktober 2015
Waktu : Pukul 10.45-12.15 WITA
Narasumber : GAYLAM Lampung (Rendie D. Y. Yusliadie) dan LSM Kebaya (Vinolia Wakijo)

