Kompas, 24 Oktober 2014
UNGARAN, KOMPAS.com — Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kabupaten Semarang menyebutkan, ada 20 orang yang ditemukan positif HIV/AIDS selama bulan Oktober. Empat orang di antaranya adalah sepasang suami istri tokoh masyarakat dan pasangan tokoh agama.
"Akumulasi bulan Oktober sampai tanggal ini 24 ini, capaiannya sudah 20 orang yang positif. Menariknya, ada dua tokoh agama dan tokoh masyarakat yang terkena. Saat ini masih dirawat di rumah sakit," ungkap Koordinator Wilayah PKBI Kabupaten Semarang, Muhamad Pujisantoso, Kamis (24/10/2014) siang.
Selain dua pasang tokoh agama dan tokoh masyarakat itu, terdapat pula satu keluarga muda yang terdiri dari bapak, ibu, dan seorang balita berumur 1,5 tahun yang juga dinyatakan positif HIV AIDS.
"Dari kalangan PSK lima orang, itu kita dapat di lokalisasi Tegalpanas, PSK liar di Ungaran dan di Gamblok, Ambarawa. Empat orang dari LSL (lelaki suka lelaki), tiga janda, dan seorang LBT (laki-laki berisiko tinggi)," ungkapnya.
Sejumlah temuan tersebut diperoleh dari laporan rumah sakit maupun puskesmas yang telah melakukan Voluntary Conseling Test (VCT) terhadap suspect HIV/AIDS. Selain dari RS dan puskesmas, temuan kasus HIV/AIDS juga diperoleh dari razia yang digelar bersama jajaran Polres Semarang.
"Setelah razia di Ungaran, Kapolres langsung mengatensi kepada seluruh polsek untuk merazia PSK liar. Kamis kemarin di Gamblok (Ambarawa) kita dapati tiga PSK, salah satunya dinyatakan positif setelah di-VCT," pungkasnya.
Sementara itu, aktivis HIV/AIDS yang juga Manajer Kasus, Andreas Bambang, mengatakan bahwa selama 20 tahun dirinya berkecimpung dalam mendampingi penderita HIV AIDS, temuan 20 kasus dalam bulan Oktober ini cukup fenomenal. Rata-rata temuan di Kabupaten Semarang selama ini hanya berkisar lima kasus setiap bulannya.
"Ini mengejutkan, selama saya jadi aktivis tidak pernah menjumpai sejumlah ini. Saya kira ini karena efektivitas pelayanan rumah sakit, puskesmas, dan teman-teman LSM sangat bagus," ujarnya.
Penulis: Kontributor Ungaran, Syahrul Munir; Editor: Caroline Damanik
Sumber: Kompas







