Berita Satu, 16 Mei 2014

Tes HIV (sumber: Drugs Discovery)Yogyakarta - Penderita HIV/AIDS di Kota Yogyakarta dalam kurun waktu lima tahun terakhir cenderung bergeser ke arah penderita heteroseksual yang berasal dari lingkungan rumah tangga.

"Kecenderungan penderita HIV/AIDS selalu berubah dari waktu ke waktu, masyarakat tidak lagi berpandangan bahwa penyakit tersebut hanya bisa diderita oleh pekerja seks saja," kata Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS Kota Yogyakarta Ghanis Kristia di Yogyakarta, Jumat (16/5).

Menurut dia, HIV/AIDS pertama kali ditemukan pada pada pekerja seks, namun sekitar tahun 2000-an banyak penderita HIV/AIDS yang memiliki latar belakang sebagai pecandu narkoba suntik dan kini kecenderungannya bergeser ke arah rumah tangga.

"Ibu rumah tangga yang dulu bukan merupakan kelompok berisiko tinggi kini menjadi salah satu kelompok yang rentan tertular penyakit tersebut," katanya.

Ghanis mengatakan, pergeseran kecenderungan penderita HIV/AIDS tersebut menunjukkan masyarakat justru semakin menyadari dan memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai penyakit tersebut dan bagaimana penularannya.

"Banyak masyarakat yang paham dan kemudian melakukan tes HIV/AIDS sehingga dari waktu ke waktu akan terlihat bagaimana kecenderungan yang sebenarnya," katanya.

Di Kota Yogyakarta, layanan pemeriksaan HIV/AIDS atau tes CVT bisa dilakukan di berbagai puskesmas seperti Puskesmas Gedongtengen, Pusksemas Umbulharjo I, Puskesmas Tegalrejo, Puskesmas Mergangsan, dan Puskesmas Mantrijeron.

Selain itu, pemeriksaan juga bisa dilakukan di RS Panti Rapih, RS Bethesda, RS PKU Muhammadiyah, PKBI DIY, dan BP4 Kota Yogyakarta.

Berdasarkan data kumulatif dari KPA Kota Yogyakarta, jumlah penderita HIV/AIDS sejak 2004 hingga akhir 2013 tercatat sebanyak 677 orang yang terdiri dari 458 penderita HIV dan 219 penderita AIDS.

Dari total penderita tersebut, 64% berjenis kelamin laki-laki, 38% adalah penderita yang berusia 20-29 tahun dan 46% berasal dari faktor risiko heteroseksual.

Pada Sabtu (17/5), KPA Kota Yogyakarta bekerja sama dengan CD Bethesda dan LSM peduli HIV akan menggelar Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) yang bertema "Lets Keep The Light on HIV".

Wakil Ketua Panitia MRAN Arsita Mega Oktavianus mengatakan, tema tersebut menunjukkan masih ada harapan bagi penderita HIV/AIDS untuk memiliki masa depan yang baik.

"Tujuannya bukan hanya untuk merenung, tetapi memberikan informasi tentang HIV/AIDS kepada masyarakat, meningkatkan kepedulian, pencegahan, dan perawatan," katanya.

Berbagai kegiatan pendukung akan digelar dalam MRAN di antaranya, pojok informasi dan dialog tentang HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi, pentas seni dari komunitas, hingga penyalaan lilin dan doa bersama.

Penulis: /NAD; Sumber: Antara

Sumber: Berita Satu

Penelitian

Knowledge Hub

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID