TribunNews, 22 Januari 2014
TRIBUNNEWS.COM MELAWI, -Penanganan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kabupaten Melawi sedikit terhambat, pasalnya sampai saat ini belum ada Voluntary Counseling and Testing (VCT) di RUSD Kabupaten Melawi.
Kepala dinas kesehatan Melawi, Simson mengungkapkan, jika ada pasien yang terdeteksi HIV/AIDS, biasanya langsung dirujuk ke VCT Sintang atau VCT Pontianak.
"Ketiadaan VCT sedikit banyak menghambat, karena ketika ada pasien yang tedeteksi langsung dirujuk ke rumah sakit lain," kata Kepala dinas kesehatan Melawi Simson Rabu (22/1).
Namun demikian, kata Simson pada tahun 2014 ini, VCT yang menjadi harapan pemerintah akan terwujud. Apalagi pihaknya sudah menyiapkan tenaga khusus, serta alat detektor untuk mendeteksi HIV/AIDS.
"Untuk tenaga konseling juga sudah ada, ya mudah-mudahan tahun 2014 kita sudah memiliki VCT sehingga pelayanan kepada penderita HIV AIDS bisa lebih maksimal," tandasnya.
Kata Simson, pemkab Melawi tetap berusaha semaksimal mungkin menangani penderita HIV/AIDS. Selain akan mengadakan VCT, cara lain adalah dengan melakukan pembinaan secara rutin di tempat-tempat beresiko.
"Penyuluhan rutin kita lakukan, namun yang menjadi kendala biasanya pekerja ini selalu berpindah-pindah tempat. Setiap ada penyuluhan pasti orangnya sudah ganti lagi dengan yang baru," katanya.
Data dari VCT Sintang yang disampaikan ke dinas kesehatan, pada tahun 2012 jumlah penderita HIV/AIDS di Melawi sebanyak 20 orang, kemudian pada tahun 2013 ada 3 orang yang dianjurkan untuk masuk ke VCT Sintang.
Tugas Bersama
Simson mengungkapkan untuk mencegah merebaknya HIV/AIDS di Melawi membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, sekolah dan masyarakat itu sendiri.
"Kita ini hanya melakukan jika ada dampaknya, yang mencegah sendiri adalah masyarakat," katanya.
Cara yang aman untuk terhindar dari HIV/AIDS. Satu diantaranya adalah setia dengan pasangan, dan tidak memakai jarum suntik secara bergantian. Karena resiko untuk terinfeksi HIV/AIDS akan sangat besar.
"Hal yang paling aman adalah jauhi berganti-ganti pasangan, sebab selain membahayakan kesehatan sendiri di dalam agama juga sudah jelas di larang. Maka dari itu peran serta agama untuk mencegah ini sangat besar," tandasnya.
Cara lainnya, kata Simson, jika warga mengetahui ada satu diantara keluarganya terindikasi HIV/AIDS agar segera melapor ke dinas kesehatan sehingga bisa segera dilakukan tindakan. "Kita jamin kerahasiaannya jadi jangan takut untuk melapor," katanya. (ali)
Jadi Prioritas
Wakil ketua DPRD Melawi Kluisen mengungkapkan, pelayanan kesehatan harusnya menjadi prioritas, karena menyangkut pelayanan publik. Untuk itu VTC harus segera diadakan supaya penanganan bisa lebih maksimal.
Kluisen mengungkapkan, bukan hanya VCT saja yang menjadi hambatan masyarakat untuk mendapat pelayanan, terkadang RSUD yang menjadi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan juga masih kurang perhatian. Satu diantaranya masih minimnya alat dan ketersediaan obat di rumah sakit.
Acapkali, pasien yang menggunakan kartu miskin kurang mendapatkan pelayanan, bahkan sebaliknya mereka dirujuk ke klinik swasta. Padahal biaya yang harus ditanggung pasien saat berada di klinik jauh lebih besar.
Kata Kluisen DPRD siap menggiring penganggaran jika memang rumah sakit masih kekurangan biaya. Apalagi itu merupakan kepentingan masyarakat yang memang harus menjadi skala prioritas. "Yang penting disampaikan saja," katanya. (ali)
Sumber: Tribun News







