Hasan Supriyanto | 24 Februari 2015
Fenomena epidemi HIV mungkin tidak lebih popular dari isu penyalahgunaan narkotika, apalagi beberapa waktu terakhir ketika pemerintah menyatakan Indonesia darurat narkoba. Pemerintah menunjukan sikap tegas dengan eksekusi terpidana mati gembong narkoba dengan segala tantanganya. Namun apakah issu penyebaran HIV dan AIDS dianggap tidak penting? Menjawab pertanyaan tersebut dapat dilihat dari besaran persoalan yang ada dalam issu HIV dan AIDS. Mengetahui persoalan tersebut dilihat dari data epidemi HIV dan AIDS.
Berdasarkan data resmi dari Kementerian Kesehatan RI, hingga akhir September 2014, temuan kasus HIV secara nasional secara kumulatif tercatat 150.251 kasus. Sementara kasus AIDS sampai dengan September 2014 mencapai 55.799 kasus. Temuan kasus HIV tertinggi adalah di Provinsi DKI Jakarta mencapai 32.782 kasus. Sementara temuan kasus AIDS tertinggi ditemukan di Provinsi Papua yang mencapai 10.184 kasus.
Sebagian besar kasus AIDS tersebut terdapat pada kelompok usia 20-29 tahun sebesar 32,9 persen dan kelompok umur 30-39 tahun sebesar 28,5 persen. Salah satu kelompok yang jumlah kasus AIDS tinggi adalah kelompok ibu rumah tangga yaitu 6.539 kasus. Gambaran data tersebut menunjukkan bahwa ada suatu ancaman serius terhadap keberlangsungan generasi muda bangsa Indonesia ke depan. Karena dengan semakin tingginya kasus pada ibu rumah tangga dapat menimbulkan temuan kasus pada anak.
Temuan kasus di Provinsi Riau berdasarkan data KPA Provinsi Riau yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau secara kumulatif hingga September 2014 mencapai 1.442 kasus HIV dan 1.168 kasus AIDS. Kasus di Kota Pekanbaru pada periode sampai dengan Oktober 2014 berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru mencapai 628 kasus HIV dan 614 kasus AIDS. Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, kasus HIV dan AIDS masih didominasi oleh laki-laki. Kasus HIV pada laki-laki hingga Oktober 2014 mencapai 333 (53 persen) dan 454 (74 persen) kasus AIDS. Dari sisi usia, temuan kasus tersebut lebih banyak ditemukan pada usia muda dan usia produktif.
Peningkatan kasus HIV dan AIDS pada ibu rumah tangga dan pada usia produktif atau usia kerja perlu disikapi dengan upaya terobosan. Untuk melakukan upaya teroboson perlu diketahui sumber masalahnya. Masuknya HIV dan AIDS pada keluarga tentu sebagian besar disebabkan karena perilaku suami atau laki-laki pasanganya. Suami atau laki-laki yang cenderung untuk berperilaku berisiko adalah laki-laki (man) yang memiliki uang (money), sering bepergian dan merasa dirinya “jantan” atau 4 m.
Laki-laki yang cenderung paling berisiko itulah yang patut untuk dijadikan sasaran utama penanggulangan AIDS. Pendekatan pada laki-laki dianggap efektif untuk memotong mata rantai penularan HIV khususnya pada ibu rumah tangga. Namun dalam pelaksanaanya upaya pendekatan pada kelompok ini tidak semudah yang dibayangkan. Karena di samping cenderung egois, laki-laki juga cenderung “melawan” dan tidak pernah mengakui bahwa dirinya melakukan perilaku yang berisiko terinfeksi HIV. Padahal jika diamati dari data temuan kasus, sebagian besar ditemukan pada laki-laki dan pada kelompok profesi wiraswasta atau swasta.
Upaya penanggulangan AIDS dengan pendekatan laki-laki sebenarnya sudah lama dilaksanakan. Pemberian informasi pada kelompok ini juga sudah dilakukan baik melalui program penjangkauan yang dilakukan lembaga-lembaga non pemerintah peduli AIDS maupun melalui promosi kesehatan yang dilakukan dinas kesehatan dan jajaranya. Sudah banyak laki-laki yang terpapar akan informasi tentang HIV dan AIDS. Namun pertanyanya akankah menjadi perhatian bagi laki-laki berisiko dan merubah perilakunya? Jawabanya tidak semua laki-laki serta merta mengubah perilakunya. Semakin tingginya kasus HIV pada laki-laki menjawab pertanyaan itu.
Laki-laki dapat dianalogikan sebagai pembeli dan penjaja seks sebagai penjual. Keberadaan penjual akan bertahan atau sangat bergantung dengan keberadaan pembeli. Semakin banyak pembeli maka penjual juga akan semakin banyak. Penjual juga akan mencari cara untuk mempengaruhi pembeli agar menjadi pelangganya.
Lalu muncul pertanyaan apakah laki-laki duluan yang memulai atau perempuan penjaja seks yang memulai. Fenomena ini bagaikan ayam dengan telur, apakah ayam duluan atau telur duluan. Sulit untuk dipastikan karena keduanya saling berhubungan erat. Namun yang pasti pendekatan pada laki-laki diyakini bisa menjadi daya ungkit upaya penanggulangan HIV dan AIDS baik secara nasional maupun lokal/daerah.
Upaya penanggulangan pada laki-laki perlu mendapat dukungan pihak terkait. Karena keberadaan laki-laki hampir berada di berbagai sektor pekerjaan baik formal maupun non formal. Laki-laki juga merupakan aparatur penyelenggara negara termasuk TNI dan Polri.
Berikut upaya penanggulangan AIDS yang dapat dilakukan dalam rangka memutus mata rantai penularan AIDS dari kelompok laki-laki : Pertama, pemberian informasi secara massif melalui dunia kerja, baik dunia kerja formal maupun non formal. Pendekatan pada perusahaan dapat diintegrasikan dalam program keselamatan dan kesehatan kerja atau biasa disebut K3.
Kedua, pendekatan pada laki-laki yang bekerja di instansi pemerintah seperti PNS dapat dilakukan pada saat pendidikan dan latihan pegawai termasuk pada saat pra jabatan ketika masih berstatus sebagai CPNS. Untuk itu peran dari instansi terkait diperlukan termasuk peran. Karena berdasarkan pengalaman, kalau kegiatan pada PNS dilakukan secara khusus dan dibunyikan dalam rangka penanggulangan AIDS kurang mendapat respon.
Ketiga, di samping langsung menyasar laki-laki, upaya penanggulangan dalam rangka memutus mata rantai penanggulangan dari lak-laki dapat dilakukan melalui istri atau ibu rumah tangga. Para istri/ibu rumah tangga didorong untuk mengingatkan para suami agar mewaspadai epidemi virus HIV. Selain itu diharapkan pada istri juga agar lebih maksimal dan prima dalam melayani suami baik lahir maupun batin. Dengan demikian diharapkan suami tidak terpikir untuk melakukan perilaku berisiko.
Keempat, pada pekerja laki-laki yang cenderung jauh dari istri seperti sektor perkebunan, pertambangan, konstruksi dan transportasi perlu dilakukan penyediaan sarana alternatif. Sarana alternatif yang dimaksud adalah penyediaan sarana yang dapat mengusir perasaan “kesepian” laki-laki. Karena kecenderungan yang terjadi pada laki-laki pada sektor ini cenderung untuk memikirkan untuk berperilaku berisiko pada waktu senggang/tidak bekerja. Sarana yang dimaksud antara lain sarana olahraga dan sarana hiburan sehat yang dapat menyalurkan hobi atau kreativitas pekerjanya.
Kelima, membuat kampanye massal dengan memanfaatkan media yang tersedia di lingkungan kerja antara lain melalui bulletin perusahaan atau televisi perusahaan. Dapat juga dilakukan dengan menyediakan lembar informasi tentang HIV dan AIDS di klinik atau sarana kesehatan milik perusahaan. Upaya penanggulangan juga dapat dilakukan pada saat iven besar perusahaan antara lain saat family gathering atau saat peringatan ulang tahun perusahaan.
Upaya-upaya tersebut diharapkan dapat membuat laki-laki menjadi mengerti dan sadar untuk tidak melakukan perilaku berisiko terinfeksi HIV. Harapannya adalah penurunan epidemi HIV dan AIDS pada laki-laki dapat mengurangi epidemi pada ibu rumah tangga dan anak. Semoga.***
Hasan Supriyanto
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kota Pekanbaru
Sumber: http://www.riaupos.co/3690-opini-lelaki,-ibu-rumah-tangga,-dan-aids.html#.VO6QdXyUdyU







