Kedaulatan Rakyat | Yon Haryono | Rabu, 21 Januari 2015

IlustrasiSEMARANG (KRjogja.com) - Ketua Pengurus Harian Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah dr Widoyono Mph mengatakan, kondisi persoalan kesehatan remaja yang terpinggirkan tidak sepenuhnya salah masyarakat. Karena kondisi ini ditunjang dengan sistem yang belum support pada kesehatan remaja. "Masyarakat dan pemerintah harus mulai peduli pada para remaja usia produktif", tegasnya, Rabu (21/01/2015).


Terpisah, Direktur Eksekutif PKBI Jateng Elisabeth Setya Asih Widyastuti SKM MKes menyatakan PKBI Jateng bersama sejumlah LSM peduli kesehatan remaja selalu berupaya melakukan langkah-langkah dan mengajak baik orang tua, masyarakat, maupun remaja itu sendiri makin peduli pada persoalan kesehatan reproduksi para remaja.

Menurutnya, data PKBI Jateng tahun 2014 mencatat ada 76 kasus remaja yang konsultasi terkait kehamilan yang tidak dikehendaki, belum kasus HIV AIDS yang cukup tinggi di Jateng, 10 persen di antaranya kaum remaja. Dan dari tahun ke tahun usia penderita HIV AIDS semakin muda, 

Ini diperburuk lagi dengan sangat terbatasnya pengetahuan remaja terkait kesehatan reproduksi mereka. Data dari Universitas Indonesia, 63 % remaja tahu kalau hubungan seksual bisa berakibat kehamilan dan yang memprihatinkan ada 37 % remaja tidak tahu kalau hubungan seksual bisa mengakibatkan kehamilan.

“Kami sangat berharap, masalah pendidikan kesehatan reproduksi remaja bisa dimasukkan secara formal menjadi bagian kurikulum di sekolah menengah pertama maupun sekolah menengah atas. Selama ini hanya menjadi bagian penyuluhan saja, itupun kalau ada” ujar Elisabeth. (Sgi)

 

Sumber: http://krjogja.com/read/245429/pemerintah-harus-mulai-peduli.kr

Penelitian

Knowledge Hub

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID