Beritajatim. Minggu, 11 Januari 2015
Banyuwangi (beritajatim.com) – Kasus HIV/AIDS di Banyuwangi masih menduduki peringkat ke-3 dari kota dan kabupaten di Provinsi Jawa timur, setelah Surabaya dan Malang.
Berdasarkan data yang berhasil di himpun beritajatim.com melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, saat ini total penderita HIV di Banyuwangi mencapai 2.099 kasus, 999 kasus diantaranya penderita AIDS, dan 315 diantaranya meninggal dunia. Sementara di tahun 2014, terhitung mulai Januari hingga November ditemukan 423 kasus HIV dan 228 kasus AIDS, sedangkan jumlah yang meninggal 33 orang.
Menurut Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, Sudarto, tingginya angka penderita HIV/AIDS di Banyuwangi belum bisa diukur secara akurat dengan data yang ada, mengingat kasus HIV/AIDS dianalogikan seperti gunung es, sehingga kasus yang belum tercatat lebih besar dari kasus yang sekarang sudah ditemukan.
“Kita tidak bisa memastikan jumlah penderita HIV/ADIS di Banyuwangi atau didaerah-daerah lainnya dengan data yang sekarang ada, karena kasus HIV/AIDS ini seperti gunung es, sangat dimungkinkan orang yang belum terdeteksi jauh lebih besar, sehingga yang terbaik dilakukan ialah tindakan-tindakan pencegahan akan bahanya HIV/AIDS “ tegasnya kepada beritajatim.com.
Berdasarkan data yang telah dihimpun, untuk kasus HIV/AIDS di Banyuwangi sendiri paling banyak terjadi pada usia produktif , yaitu usia 16-45 tahun yang mencapai 81 persen, dari total 2099 kasus, dan usia 26-30 tahun merupakan kasus terbanyak.
Menurut Sudarto, sejauh ini pemerintah Banyuwangi melalui dinas kesehatan telah melakukan berbagai upaya pencegahan dan penyembuhan, melalui sosialisasi-sosialisasi kepada masyarakat dan pelajar dengan menggandeng berbagai pihak seperti pemerintah tingkat desa hingga kabupaten, tokoh agama, dan para guru di sekolah.
“Dinas kesehatan sendiri telah melakukan berbagai program pencegahan melalui program penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat 24 kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Kami mengajak para tokoh agama, birokrasi, dan para guru. Di sekolah-sekolah kami bentuk duta HIV dan tim relawan dari kalangan guru,” paparnya.
Sudarto menambahkan, untuk bentuk pencegahan dan pengobatan sendiri, pemerintah kabupaten telah memberikan berbagai pelayanan kesehatan seperti VCT (volunteer concelling testing), PPIA (Program Pencegahan dari Ibu Keanak), LJAAS (Layanan Jarum Alat Suntik Steril), PTRM (Program Terapi Rumatan Metadon) dan PDP (Perawatan Dukungan Pengobatan) bagi yang sudah positif terkena HIV/AIDS. [rifq/kun]







