Oleh: Hersumpana Ignatius; Editor: Iko Safika

Ilustrasi | petsmart.comPenelitian “Integrasi Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS dalam Kerangka Sistem Kesehatan Nasional”, kerjasama Pusat Kebijakan dan Managemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (PKMK-UGM) dan Department Foreign Affairs and Trade (DFAT), pemerintah Australia telah memasuki tahap analisa data. Workshop analisis data yang dihadiri oleh peneliti PKMK-UGM dan ke-9 peneliti universitas yang terlibat telah dilakukan di Yogyakarta tanggal 25-28 Agustus yang lalu. Pada sesi terakhir, dibahas pengertian konsep integrasi dan bagaimana mengukur tingkat integrasi. Pengertian integrasi secara konseptual memiliki banyak definisi. Merujuk kajian pustaka yang dilakukan oleh Shigayeva, et al[1], istilah integrasi dipahami secara luas dan variatif, yang dapat terdiri dari integrated care[2], Integrated health services[3], disease management [4], coordinated care[5], dan continuum of care[6]. Sementara Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menggunakan istilah Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB) bagi upaya penanggulangan HIV dan IMS[7]. Adapun konsep yang digunakan dalam penelitian ini lebih merujuk pada konsep integrasi yang digunakan Shigayeva et al. dengan melihat integrasi baik secara struktural maupun fungsional dari sebuah sistem. Dalam konteks kerangka sistem kesehatan, integrasi dipandang sebagai langkah positif yang bertujuan mengurangi fragmentasi dan duplikasi layanan, memperbaiki hasil layanan dan kepuasan yang lebih baik, menawarkan manfaat yang lebih besar, serta memperbaiki kinerja sistem kesehatan, program-program dan layanannya.

Pada penelitian ini, untuk memahami integrasi baik struktuktural dan fungsional secara mendasar perlu bersikap kritis dengan mengajukan tiga pertanyaan; pertama, mengapa? Mengapa integrasi diperlukan untuk merespon baik persepsi atau fakta adanya fragmentasi, kesenjangan, duplikasi, ketidakefisienan atau perubahan kebutuhan dan harapan masyarakat akan fungsi atau layanan. Kedua, apa? Struktur dan fungsi apa dan pada tingkat sistem kesehatan apa yang dipengaruhi oleh integrasi. Struktur dan fungsi pada tingkat yang berbeda seperti stakeholder dan intervensi spesifik terkait sistem kesehatan meliputi tata kelola, pembiayaan, penyediaan layanan, sistem informasi, pengadaan material obat dan alat medik, dan pemberdayaan masyarakat. Sebagai contoh, pada LKB, apakah fungsi akan terpengaruh oleh Pengobatan, Dukungan dan Perawatan (PDP), atau siapa saja yang akan terpengaruh oleh LKB, apakah yang akan dilakukan oleh organisasi masyarakat sipil (OMS) dalam LKB? Apakah OMS harus mengambil obat di puskesmas atau merujuk pasien ke RS? apakah peran kader dan peer educator? Apakah sama dengan peran social worker. Ketiga, bagaimana? Bagaimana integrasi mempengaruhi komponen sistem kesehatan atau pemangku kepentingan? Upaya untuk memperkuat kerjasama diantara organisasi, program, penyedia layanan atau pemangku kepentingan dikembangkan lewat penyusunan peraturan, penyatuan layanan, pembentukan tim yang melibatkan banyak pemangku kepentingan, membangun jaringan pelayanan dan mengembangkan mekanisme koordinasi. Lebih lanjut, terkait pemahaman bentuk integrasi, apakah continuum of care merupakan bentuk integrasi struktural? seperti pemusatan layanan penanggulangan HIV dan AIDS pada Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM). Sedangkan integrasi fungsional, apakah fungsi-fungsi layanan primer dapat didukung oleh masyarakat sipil dan komunitas? Namun demikian, integrasi di level layanan belum tentu didukung oleh integrasi pembiayaan. Misalnya pendanaan layanan kesehatan dan komunitas untuk LKB sebagian besar masih berasal dari satu sumber pendanaan (GF).

Pengukuran Integrasi

Memperhatikan hal diatas, prosedur pengukuran integrasi untuk penelitian ini secara teoritik dan praktik merujuk pada elaborasi yang sudah dilakukan oleh Conseil et al. (2000)[8] yang menggambarkan dan menentukan tingkat integrasi dari 26 dimensi yang dikembangkan dari six building blocks sistem kesehatan.  Pengukuran tingkat integrasi dalam penelitian ini akan mengacu pada penelitian Conseil et al. 2000 dan Shigayeva 2010[9]) yang secara prinsip membagi tiga tingkatan integrasi berikut:

Integrasi penuh adalah perubahan di struktur program sehingga menciptakan tata kelola, pengeloan pembiayaan, penyediaan layanan atau sistem informasi yang satu dengan menyatunya dua program di semua bidang-bidang fungsional.

Terintegrasi sebagian adalah tingkat integrasi yang memiliki karakteritik yang terdiri dari Lingkage, dan Koordinasi. Linkage adalah interaksi yang tidak terpola antara struktur dan fungsi program HIV dan AIDS dengan sistem kesehatan meliputi pertukaran informasi, rujukan jika diperlukan, dan pertemuan-pertemuan yang sifatnya sementara. Koordinasi adalah kegiatan untuk mencapai tujuan diperkuat dengan kerja sama yang diformalkan tetapi struktur dan fungsi tetap terpisah.

Tidak terintegrasi adalahkebijakan/program HIV dan AIDS secara struktural diorganisasikan dan berfungsi secara paralel dengan komponen sistem kesehatan lain.

Proses dan langkah yang dilakukan dalam pengukuran ketiga tingkat integrasi tersebut dengan berbasis dari data primer dan sekunder yang diperoleh untuk menggambarkan deskripsi dan manfaat integrasi dilakukan analisis berdasarkan kerangka konseptual yang dirujuk dengan proses familiarisasi, pembuatan index, pembuatan diagram, pemetaan dan penafsiran data untuk setiap fungsi sistem kesehatan.

Pengukurannya ditentukan bersama-sama dengan metode Delphi[10] sebuah metode untuk mencapai kesepakatan karena keterbatasan data masa lampau dalam pertemuan tatap muka langsung di antara para peneliti (pakar) dari 7 subsistem kesehatan dan 26 dimensinya. Hasil konsensus menyepakati untuk menyederhanakan kembali dari 26 dimensi menjadi sekitar 18 dengan melakukan merumuskan pertanyaan-pertanyaan kritis untuk membantu menilai dan mengukur tingkat integrasi berbasis data yang diperoleh. Kemungkinan besar dari hasil diskusi yang paling banyak adalah teritegrasi sebagian. Sementara untuk overall integration dari masing-masing dimensi akan disepakati lebih lanjut dalam pertemuan di Bandung pada akhir September 2014 dalam Forum Nasional Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia.


[1] Shigayeva Altynay, et. Al. Health Systems, communicable Disesase and integration. Health Policy and Planing, 2010:25:i4-i20 dol:10 1093/heaopol/czq060.

[2] Grone and Garcia-Barbero, Conceptualizing integration: a framework for analysis applied to neglected tropical disease control partnerships. PloS Neglected Diseases 2.e174.

[3][3] WHO, Integration of Health Care Delivery: Report of a WHO Study Group. Geneva: World Health Organization. WHO Technical Report Series, no. 861.

[4] Kodner, DL. All Together Now: a conceptual exploration of integrated care: Healthcare Quaterly 13 (Spec no):6-15

[5] Hofmarcher MH. Et al., Improved health system performance through better care coordination. OECD Health Working Paper 30. Paris, 2008.

[6] Haggerty JL., et al., Continuity of care: multidisciplinary review. British Medical Journal 327: 1219-21.

[7] Kemenkes Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan. Jakarta: 2012.

[8] Conseil A. et.al., Integration of health systems and priority health interventions: a case study of the integration of HIV and TB control programmes into the general health system in Vietnam. Health Policy and Planning 25 (suppl.1):i32-6.

[9] Shigayeva et al., op. cit

[10] 2. Whellwright, S. C., and S. Makridakis, 1980, Forecasting Methods for management, 3th ed,

John Wiley & Sons New York.

Penelitian

Knowledge Hub

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID