Oke Zone, 28 Oktober 2014

Tidak semua remaja Indonesia memahami HIV dan AIDS secara menyeluruh. (Foto: Rachmad Faisal/Okezone) JAKARTA - Banyak remaja Indonesia belum memahami masalah HIV dan penyakit AIDS secara komprehensif. Pengetahuan mereka tentang penyakit dan kekerasan seksual juga masih minim.

Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Yayasan Aliansi Remaja Independen (ARI), Ryan Fajar Febrianto,

menjelaskan, data UNICEF pada 2012 menunjukkan, hanya 11,4 persen remaja yang memahami HIV & AIDS secara komprehensif, meningkat 20,6 persen di tahun sebelumnya. Ini merupakan hasil riset Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di lima provinsi pada 2010, terhadap remaja berusia 15-24 tahun.

"Target ini masih kurang dari capaian target Indonesia untuk Millenium Development Goals (MDGs) yaitu sebesar 85 persen," ujar Ryan, dalam acara Konferensi Pers 'Dalam Semangat Sumpah Pemuda, Remaja Indonesia Tolak Perkawinan Usia Anak', di Cemara 6 Galeri-Museum, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (28/10/2014).

Riset tersebut juga menunjukkan masih adanya diskriminasi terhadap orang dengan HIV & AIDS (ODHA) karena kesalahpahaman cara penularan. Hal ini, kata Ryan, disebabkan mitos yang berkembang seputar penularan virus HIV.

"Menjadi ODHA bukan berarti kehidupan telah berakhir dan menjadi ODHA kehidupan sehat masih dapat dijalani," imbuhnya.

Data lainnya, tingkat kekerasan seksual juga cukup tinggi. Berdasarkan lembar fakta catatan tahunan (Catahu) Komnas Perempuan pada 2013, ada 279.760 kasus.

Untuk meningkatkan pengetahuan remaja Indonesia tentang HIV dan AIDS, Yayasan ARI pun menyelenggarakan pameran fotografi dengan judul "Hidupku (harusnya) Pilihanku". Pameran ini mengusung tema mengenai Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) di kalangan anak muda dan berakhir hari ini. (rfa)

Rachmad Faisal Harahap - Okezone

Sumber: Oke Zone