Berita Satu, 23 Oktober 2014

Presiden Komisaris Tahir Fondation Dato Sri Dr. Tahir saat mengunjungi rumah sakit Persahabatan di Jakarta, Rabu (22/10). (sumber: Suara Pembaruan/Ruht Semiono)Jakarta - Delegasi Global Fund, yang didukung oleh Bill & Melinda Gates Foundation, Tahir Foundation dan Dana Kesehatan Indonesia (Indonesia Health Fund) meninjau proyek pendanaan mereka di Indonesia. Salah satunya adalah meninjau penanganan penyakit Tuberkulosis (TB/TBC) di puskesmas dan rumah sakit di Jakarta, Rabu (22/10).

Rombongan yang dipimpin Chairman Mayapada Group dan Tahir Foundation Dato Sri, Prof Dr Tahir mengawali kunjungannya ke puskesmas Jatinegara, Jakarta Timur. Puskesmas yang membawahi 11 puskesmas di Kelurahan Kramat Jati dan penerima bantuan Global Fund ini memiliki keunggulan penanganan HIV/AIDS secara terintegrasi.

Kunjungan dilanjutkan ke Rumah Sakit Persahabatan, sebagai rujukan nasional penanganan penyakit pernapasan untuk meninjau ruang diagnosis TB dan laboratorium TB yang tahan berbagai TB resisten (Multi Drugs Resistance/MDR). Rombongan melakukan dialog dengan kepala puskesmas, para medis dan pasien TB. Layanan program Keluarga Berencana juga menjadi perhatian dari kunjungan ini.

Tahir mengatakan, pihaknya ingin mengetahui secara langsung sejauh mana dampak dari pendanaan Global Fund. Bagaimana fasilitas kesehatan memanfaatkan dana donor tersebut untuk mengatasi penyakit TB, HIV/AIDS, dan malaria. Selain itu, melihat potensi usaha atau proyek baru yang akan didukung oleh komitmen pendanaan berikutnya.

"Para donatur ingin tahu bagaimana hubungan Global Fund dengan puskesmas maupun rumah sakit yang dibantu. Juga kenapa kasus TB masih banyak di Indonesia, apa saja kendala yang dihadapi dalam mengatasi penyakit ini, dan mengapa sampai terjadi TB kebal terhadap obat. Semua ini penting supaya para donatur lebih jelas apa yang harus dibuat," kata Tahir.

Kepala Seksi Bimbingan Evaluasi Subdit TB, Triya Novita Dinihari menjelaskan, pendanaan dari Global Fund sejak 2003 lebih kepada operasional pengendalian TB di puskesmas, termasuk untuk obat untuk TB resisten atau TB yang sudah kebal obat. Sebab, obat untuk TB resisten ini masih diimpor dan harganya sangat mahal. Satu pasien membutuhkan biaya untuk obat ini sekitar Rp 70 juta.

"Untuk mencegah agar tidak terjadi TB resisten, langkah pertama yang kami lakukan adalah pengobatan dengan benar TB reguler. Bila sudah terjadi resisten, pasien harus diobati dengan yang standar juga," katanya.

Sedangkan obat lini 1 untuk TB reguler sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah dari APBN melalui BPJS Kesehatan. Namun, untuk obat TB resisten tidak semuanya dikaver, sehingga dukungan Global Fund masih dibutuhkan. Penyaluran dana dari Global Fund tidak disalurkan langsung ke puskesmas melainkan melalui provinsi lalu ke sub dinas dan baru ke puskesmas.

Untuk pengunaan keuangan dan teknis dilakukan pengawasan melalui internal kontrol, dan pengawasan dari LSE. Dengan bantuan Global Fund ini kesembuhan pengobatan TB mengalami peningkatan di atas 80 persen sejak tahun 2005.

Sebagaimana diketahui, sejak 2013 lalu, Tahir Foundation dan Bill & Melinda Gates Foundation bekerja sama untuk memberikan bantuan dana sebesar US$ 200 juta. Sebanyak 75 persen dana ini untuk mendukung program penanggulangan HIV/AAIDS, TB, malaria, dan KB di Indonesia. Sisanya atau 25 persen untuk membasmi polio di dunia.

Pada April 2014, kedua lembaga filantropi ini meluncurkan Dana Kesehatan Indonesia. Dana yang terkumpul sebesar US$100 juta digunakan untuk mendukung Global Fund, KB, dan pengembangan obat TB di Indonesia. Dana ini sumbangan dari para pengusaha Indonesia yang tergabung dalam lembaga tersebut, masing-masing US$ 5 juta.

Selama dekade terakhir, pendanaan dari Dana Global telah membantu Indonesia untuk merawat lebih dari 1 juta kasus TB. Juga membagi 9 juta kelambu yang mengandung insektisida untuk mencegah malaria di Indonesia. Memberikan akses pengobatan HIV yang menyelamatkan 30.000 jiwa warga Indonesia.

Menteri Kesehatan di era Presiden SBY, Nafsiah Mboi, selaku Ketua Global Fund mengawasi pengisian Dana Global yang terjadi setiap tiga tahun sekali untuk memperoleh pendanaan dari mitra di seluruh dunia. Pengisian tahun 2013 lalu menggalang lebih dari US$ 12 miliar untuk program lima tahun ke depan.

Penulis: D-13/FAB; Sumber:Suara Pembaruan

Sumber: Berita Satu