Detik News, 22 Juli 2014

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)Jakarta, AIDS (Acquired Imunodeficiency Syndrome) masih menjadi momok bagi banyak orang, di samping berbagai nama penyakit baru atau lama dan langka yang jumlah penderitanya terus bertambah. Namun baru-baru ini WHO merilis laporan, jumlah kasus AIDS dan kematian akibat sindrom ini diprediksi akan menurun dalam beberapa tahun ke depan.

Dalam laporan yang sama tercatat kini ada 35 juta orang di penjuru dunia yang hidup dengan HIV (Human Imunodeficiency Virus). Di tahun 2013, jumlah ini meningkat dengan munculnya 2,1 juta kasus baru. Namun angka ini menunjukkan adanya penurunan kasus baru sebesar 38 persen, terutama bila dibandingkan dengan penambahan kasus baru yang tercatat di tahun 2001 yang mencapai 3,4 juta kasus.

Begitu juga dengan total kasus kematian akibat AIDS. Penurunannya mencapai seperlima dari jumlah kematian dalam tiga tahun belakangan, yaitu sebanyak 1,5 juta per tahun. Wilayah yang tampak mengalami kemajuan ini antara lain Afrika Selatan dan Ethiopia.

Sejumlah faktor yang diklaim berkontribusi terhadap kemajuan kondisi ini adalah para pasien AIDS makin mudah mengakses obat-obatan yang dibutuhkannya dan makin banyak pria yang memilih disunat untuk mengurangi risiko penyebaran HIV, misal dari kebiasaan bergonta-ganti pasangan.

Kendati begitu, WHO tak memungkiri bila hanya empat dari 10 penderita HIV yang benar-benar memperoleh akses terapi antiretroviral. Dan hanya 15 negara yang tercatat mendominasi tiga-perempat kasus infeksi HIV di penjuru dunia, padahal mungkin di tiap negara ada penderita HIV namun belum masuk hitungan.

Hal yang sama juga dikemukakan Dr Jennifer Cohn dari yayasan Medecins Sans Frontieres. Menurutnya, lebih dari separuh pasien AIDS tak mendapat akses. Di Nigeria, 80 persen pasien AIDS tidak mendapat akses pengobatan sama sekali.

"Di beberapa negara orang-orang juga baru mendapatkan pengobatan padahal itu sudah terlambat untuk menyelamatkan nyawa mereka. Ibu-ibu hamil yang kena HIV juga tidak mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan," ungkapnya.

Marcus Low dari Treatment Action Campaign, Afrika Selatan juga menyebutkan di negara tersebut masih ada 1.000 kasus HIV baru tiap harinya. Ia mengakui makin banyak yang mendapat akses pengobatan tapi upaya lain untuk mencegah munculnya kasus-kasus baru semacam ini juga diperlukan.

"Setidaknya kemajuan dalam lima tahun belakangan ini jauh lebih baik daripada 23 tahun sebelumnya. Ini bukti ada kemajuan dan hambatan. Bila kita naikkan seluruh skalanya hingga tahun 2020, maka kita bisa menghentikan epidemi ini 10 tahun kemudian. Bila tidak ya kita mungkin harus menambah 10 tahun lagi atau lebih," tutur Michel Sidibe, direktur eksekutif UNAIDS menanggapi keduanya, seperti dikutip dari BBC, Selasa (22/7/2014). (lil/up)

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth

Sumber: Detik News