Oleh: Sisilya Bolilanga; Editor: Iko Safika

Workshop Pengumpulan DataSeperti yang diketahui, penelitian "Integrasi Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS dalam Kerangka Sistem Kesehatan Nasional" dilakukan oleh 9 (sembilan) universitas di masing-masing provinsi yaitu Universitas Sumatera Utara, Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, Pokdisus– Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Udayana, Universitas Nusa Cendana, Universitas Hassanudin, Universitas Negeri Papua dan Universitas Cendrawasih. Dalam menjawab tujuan dan pertanyaan penelitian, pengumpulan data primer dan sekunder telah dilakukan pada bulan Mei dan Agustus 2014. Proses pengumpulan data menunjukan keberagaman dan berbeda sesuai dengan situasi masing-masing daerah, terutama dalam konteks upaya penanggulangan HIV dan AIDS. Artikel ini bermaksud untuk menggambarkan proses dan tantangan pengumpulan data primer dan sekunder yang dialami para peneliti universitas.

Pengumpulan Data Primer

Terdapat variasi dan perubahan cara pengumpulan data primer dari yang direncanakan di protocol penelitian dan keadaan lapangan. Berikut proses pengumpulan data primer. Pertama, metode pengumpulan data. Awalnya pengumpulan data dilakukan dengan cara focus group discussion (FGD) selama dua hari, In-depth interview (IDI), dan validasi workshop dengan dua team peneliti melakukannya secara bersama. Namun demikian, terdapat variasi dalam pelaksanaannya. Ada lokasi yang hanya melakukan IDI saja karena informan tidak dapat dikumpulkan. Ada juga lokasi dimana team peneliti membagi diri dan melaksanakannya secara terpisah. Kedua, ketersediaan informan. Informan untuk FGD terdiri dari Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) yang notabene sibuk dan tidak dapat hadir sepenuhnya dalam pelaksanaan FGD yang telah direncanakan. Informan juga terdiri dari perwakilan kelompok kunci. Di beberapa lokasi SKPD juga tidak dapat digabung dengan kelompok kunci. Terbatasnya waktu juga menyebabkan waktu pelaksanaan menjadi berbeda-beda. Di beberapa lokasi dapat dilakukan dari pagi sampai sore hari, tetapi di lokasi lainnya hanya dapat dilakukan setengah hari. Hal ini juga mempengaruhi cara menggunakan instrumen yang menjadi poin berikutnya. Ketiga, instrumen terdiri dari beberapa pertanyaan yang menyangkut ke-tujuh sub sistem kesehatan. Terkadang semua di tanyakan keseluruh peserta. Ada juga yang membahas sub sistem tergantung jenis informan. Instrumen juga di modifikasi menyesuaikan kejadian besar yang ada di lokasi penelitian (e.g. penutupan lokalisasi Dolly di Jawa Timur). Keempat, belum semuanya melakukan workshop validasi. Improvisasi peneliti menjadi penentu keberhasilan melakukan proses pengambilan data. Beberapa cara yang dilakukan bagi peneliti yang melakukan pengumpulan data secara terpisah antara lain dengan briefing sebelum melakukan FGD untuk menyamakan persepsi dan pemahaman akan panduan FGD. FGD juga dilakukan beberapa kali dengan membagi informan sesuai dengan tupoksi dan kecocokan dengan pertanyaan sub sistem. FGD pada kelompok SKPD dan kelompok layanan dilakukan secara terpisah dalam waktu yang bersamaan di lokasi penelitian. Hal ini mengingat efisiensi waktu untuk mempermudah mengumpulkan para informan. Jika ada informan yang tidak hadir, maka peneliti akan melihat apakah informasi yang dibutuhkan sudah diperoleh atau belum melalui informan lain atau triangulasi sumber. Melakukan IDI untuk informan atau informasi yang belum didapat menjadi agenda berikutnya. Selain itu cultural meeting diadakan untuk membantu konfirmasi informasi yang kurang. Akhirnya, validasi workshop akan diadakan segera bagi lokasi yang belum melaksanakannya.

Pengumpulan Data Sekunder

Proses pengumpulan data sekunder secara umum menghadapi kesulitan. Permasalahannya adalah belum dipahaminya data yang akan dicari dan darimana sumbernya. Disamping itu, strategi untuk mendapatkan data sekunder belum dilakukan secara optimal. Contohnya, peneliti masih menyerahkan instrumen data sekunder langsung ke dinas atau Komisi Penanggulangan AIDS Propinsi/Kabupaten (KPAP/K) tanpa ada penjelasan. Padahal instrumen yang dikembangkan adalah bentuk generik dan umum. Strategi lain yang banyak digunakan adalah menggunakan orang 'dalam' atau asisten peneliti. Cara ini bisa berhasil, namun tanpa penjelasan dapat menghambat pengumpulan data. Di tingkat nasional, data sekunder yang ada di website lebih mudah diperoleh. Hal lain yang dialami adalah kesulitan mendapatkan data selama 3 (tiga) tahun berturut-turut. Kebanyakan hanya ada data terakhir. Beberapa jenis data lebih sulit didapat dibandingkan jenis data lainnya. Contohnya data pembiayaan dari APBN/D, data logistik, dan Sumber Daya Manusia (SDM) lebih sulit didapat dibandingkan data tentang tentang kebijakan (peraturan perundangan), epidemi HIV dan AIDS, dan layanan terkait HIV dan AIDS. Data terperinci terkait anggaran yang ada di masing-masing SKPD untuk program HIV dan AIDS juga sulit untuk didapat. Umumnya peneliti hanya memperoleh realisasi besaran dana program HIV dan AIDS. Sedangkan jumlah pengajuan anggaran tidak dapat ditelusuri. Hal tersebut didasari alasan mutasi pegawai, hilangnya data, data bersifat rahasia, tidak bisa diperinci, dan sebagainya.

Membagi data-data yang diminta berdasarkan sumber data dan menyederhanakan instrumen ke dalam bentuk yang lebih terperinci dapat membantu proses pengumpulan. Disepakati untuk mencoba mengumpulkan data semaksimal mungkin dengan menggunakan beberapa strategi yang telah disebutkan diatas.

Analisa Stakeholder

Hasil analisa stakeholder sangat ditentukan oleh kejelasan sumber data dan pembacaan data yang diperoleh. Ketidakjelasan sumber data menyebabkan kesulitan memetakan siapa-siapa pemain yang ada, dan apa peran serta tanggung-jawabnya. Terdapat juga perbedaan atau kesenjangan peran antara yang riil dan yang terjadi di lapangan. Sebagian peneliti memodifikasi tabel analisa stakeholder, terutama tentang peran dan fungsi stakeholder. Analisa stakeholder dilakukan dengan mengidentifikasi peran berdasarkan upaya penanggulangan HIV dan AIDS, yaitu: pencegahan, pengobatan, dukungan, dan perawatan (PDP).

Manajemen Data

Yang dimaksud dengan manajemen data adalah (1) kelengkapan transkrip hasil IDI dan FGD, (2) Koding data berdasarkan dimensi dan kata kunci per sub sistem kesehatan, dan (3) Singkronisasi data primer dan data sekunder. Pengelolaan data menjadi kunci dalam keberhasilan langkah analisis data. Permasalahannya belum semua tim peneliti melakukan manajemen data dengan baik. Beberapa peneliti belum membuat transkrip dan melakukan proses pembacaan untuk menentukan koding berbasis dimensi dan kata kunci yang telah disepakati. Hal ini menyebabkan proses sinkronisasi data primer dan data sekunder belum optimal. Panduan strategi analisis data yang menyangkut semua proses pengumpulan data telah dikembangkan untuk membantu analisa data.

Interaksi Antara Tim Peneliti Universitas dan Tim Peneliti Inti

Interaksi antara tim peneliti inti dan universitas cukup interaktif dan aktif. Beberapa mekanisme komunikasi telah dibangun, yaitu melalui email, telephone, hingga visitasi ke lokasi penelitian. Dengan demikian, jika ada hal-hal yang perlu didiskusikan atau diklarifikasikan dapat segera dilakukan. Proses penelitian menjadi terpantau lebih baik. Variasi pemahaman terhadap instrumen penelitian, sulitnya mendapatkan data sekunder, kesulitan untuk mengumpulkan informan, dan pengalaman menelusuri birokrasi untuk mendapatkan sumber data yang valid menjadi dinamika dari proses panjang bagi penelitian ini. Proses pengumpulan data yang memiliki tantangan sendiri tidak kalah pentingnya dengan substansi penelitian itu sendiri. Pada akhirnya kualitas dan interpretasi data ditentukan oleh data-data yang berhasil dikumpulkan.