Oleh: Chrysant Lily
Dalam konteks ekonomi global saat ini, banyak negara yang dituntut untuk mampu merasionalisasi pembiayaan layanan kesehatan mereka – termasuk layanan HIV dan AIDS. Efisiensi program menjadi isu penting, dan secara umum banyak sumber yang membuat klaim bahwa integrasi antara layanan HIV dengan layanan kesehatan umum lainnya adalah jalan untuk mencapai efisiensi tersebut (lihat UNGASS, 2011; World Bank, 2009; WHO, 2009). Tetapi apakah benar ada bukti hubungan antara efisiensi dengan integrasi? Seperti apa potensi efisiensi yang bisa didapatkan lewat integrasi? Kedua pertanyaan ini adalah pertanyaan kunci yang diajukan oleh Sweeney et al. (2011) dalam artikel mereka. Dalam studi yang dibiayai oleh UNAIDS, Sweeney et al. berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan ini lewat tinjauan sistematis terhadap literatur yang menunjukkan bukti dan pengalaman terkait efisiensi yang bisa dicapai lewat integrasi layanan HIV dengan layanan kesehatan umum.
Tinjauan sistematis yang dilakukan meliputi literatur yang dipublikasikan secara resmi maupun grey literature yang didapatkan melalui beberapa database publikasi, pencarian manual lewat website, serta referensi-referensi tambahan lewat proses snowball sampling. Kriteria yang ditetapkan terhadap literatur yang dipilih adalah selain literatur tersebut harus menyajikan bukti tentang efisiensi layanan HIV lewat integrasi ke layanan kesehatan lain, literatur yang di-review juga harus merupakan studi yang dilakuan di negara-negara di kelas pendapatan rendah dan menengah.
Dengan metode ini, Sweeney dan rekan-rekannya berhasil mengumpulkan dan mengevaluasi 46 referensi. Studi-studi ini kemudian dikelompokkan ke dalam lima kategori; (1) studi tentang integrasi layanan tes dan konseling HIV terhadap layanan kesehatan lain seperti layanan kesehatan reproduksi, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan TB, (2) integrasi layanan TB ke perawatan dan pengobatan HIV, (3) integrasi perawatan dan pengobatan HIV terhadap layanan kesehatan umum, (4) integrasi layanan Keluarga Berencana (KB) ke layanan untuk ODHA, dan (5) integrasi layanan pencegahan dan perawatan HIV dengan layanan kesehatan lainnya khususnya untuk populasi kunci yang mungkin memiliki kebutuhan yang berbeda dari masyarakat umum.
Dari studi-studi yang ada dalam kategori pertama, ditemukan bahwa layanan tes dan konseling HIV yang diintegrasikan dengan layanan KIA dan TB lebih efisien dibandingkan dengan layanan tes dan konseling HIV yang berdiri sendiri. Untuk kategori kedua, sebagian besar studi melaporkan bahwa layanan perawatan HIV dan TB yang terintegrasi sangat berkontribusi terhadap efisiensi biaya program. Di kategori ketiga, literatur menunjukkan bahwa ada kecenderungan peningkatan efisiensi teknis akibat integrasi layanan HIV ke layanan umum. Namun, akibat beragamnya metode yang dipakai oleh studi-studi yang ada dalam mengukur biaya, masih belum ada kesimpulan yang kuat tentang manfaat dari segi ekonomi terkait integrasi perawatan dan pengobatan HIV ke layanan umum. Sementara dari sumber-sumber yang ada di kategori keempat disimpulkan bahwa integrasi antara layanan KB ke layananan HIV sangat menghemat biaya, walau pun tidak ada studi yang membandingkan langsung antara layanan KB atau layanan HIV yang berdiri sendiri-sendiri. Untuk kategori terakhir, literatur yang tersedia sangat terbatas jumlahnya tetapi dua dari tiga studi yang ada dalam kategori kelima melaporkan unit cost per pasien yang lebih rendah untuk layanan yang terintegrasi.
Secara keseluruhan dari tinjauan sistematis yang dilakukan, bukti-bukti yang ada mendukung kebijakan dan upaya untuk melakukan integrasi layanan HIV dengan layanan kesehatan lainnya. Bisa disimpulkan bahwa integrasi berkontribusi terhadap efisiensi program HIV khususnya dari segi biaya, sebab biaya untuk menyediakan layanan HIV dan AIDS yang terintegrasi cenderung lebih rendah daripada layanan yang disediakan secara terpisah. Tetapi lebih jauh dari ini, Sweeney et al. menegaskan bahwa pertanyaan kritis yang perlu ditanyakan sekarang bukan lagi pada soal apakah perlu atau tidaknya dilakukan integrasi, tetapi pada bagaimana melakukan integrasi serta model integrasi seperti apa yang sesuai untuk konteks tertentu. Masih sangat dibutuhkan penelitian-penelitian yang bisa menghasilkan bukti untuk aspek-aspek ini demi pengembangan kebijakan dan program kesehatan serta program HIV ke depan.
Referensi:
Sweeney, S., Obure, C.D., Maier, C.B., Greener, R., Dehne, K., Vassall, A. 2012. Cost and Efficiency of Integrating HIV/AIDS Services with Other Health Services: a Systematic Review of Evidence and Experience. Sex Transm Infect, 88: 85-99.